H.Edi Basri,SH.,M.Si Ketua Komisi III DPRD Prov Riau:”KEMERDEKAAN, SYUKUR DAN JIHAD KEBANGSAAN Menuju Indonesia Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”

Provinsi Riau.redaqsi.com-Kemerdekaan Indonesia bukanlah sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia adalah rahmat dan pertolongan Allah SWT, sekaligus buah dari pengorbanan panjang para pejuang, para syuhada, ulama, rakyat dan seluruh anak bangsa yang berjuang dengan harta, tenaga, pikiran bahkan nyawa. Senin(17/8/2026)

Karena itu, setiap memperingati kemerdekaan, kita tidak cukup hanya mengibarkan bendera dan mengucapkan syukur secara seremonial. Kemerdekaan harus kita maknai sebagai amanah sejarah dan amanah moral.

Allah SWT berfirman:

‘’ Jikalau sekiranya penduduk suatu Negeri beriman dan bertaqwa,pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi’’
QS. Al-A’raf: 96)

Ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan sebuah negeri tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi juga oleh iman, ketakwaan, keadilan dan perilaku masyarakatnya.

Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya kaya, sumber daya alamnya melimpah, dan manusianya memiliki potensi besar.

Namun pertanyaan kita adalah:

Apakah kekayaan itu sudah menjadi berkah bagi seluruh rakyat?

Ataukah sebagian kekayaan negeri justru berubah menjadi sumber kesenjangan, konflik, korupsi, kerusakan lingkungan dan perebutan kepentingan?

Di sinilah makna kemerdekaan harus kita renungkan kembali.

Kemerdekaan Harus Melahirkan Keberkahan

Al-Qur’an menggambarkan negeri yang ideal dengan ungkapan:

“Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” — negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah.

Ungkapan ini terdapat dalam QS. Saba’ ayat 15.

Negeri yang baik bukan sekadar negeri yang memiliki gedung tinggi, jalan yang panjang atau APBN dan APBD yang besar.

Negeri yang baik adalah negeri yang hukumnya adil, pemerintahannya amanah, ekonominya produktif, masyarakatnya sejahtera, sumber daya alamnya dikelola untuk kepentingan rakyat, dan para pemimpinnya takut kepada Allah dalam menggunakan kekuasaan.

Karena itu, menjaga kemerdekaan bukan hanya tugas tentara.
Menjaga kemerdekaan adalah tugas seluruh rakyat.

Jihad kebangsaan pada zaman sekarang bukan hanya mengangkat senjata. Jihad kebangsaan adalah perjuangan melawan segala bentuk kemungkaran yang merusak kehidupan bangsa:

melawan korupsi,
melawan penyalahgunaan kekuasaan,
melawan ketidakadilan,
melawan kemiskinan,
melawan kebodohan,
melawan narkoba,
melawan politik uang,
melawan nepotisme,
melawan keserakahan,
melawan kebencian dan politik yang memecah belah masyarakat.

Dan yang tidak kalah penting:
melawan diri kita sendiri ketika kita mulai membenarkan kesalahan karena kepentingan pribadi atau kelompok.

Jangan Menjadi Bangsa yang Kufur Nikmat

Allah SWT mengingatkan dalam kisah negeri Saba’ tentang hubungan antara nikmat, rasa syukur dan keberkahan.

Bangsa yang diberikan nikmat tetapi tidak mampu mensyukurinya dapat kehilangan keberkahan.
Karena itu, jangan sampai kita menjadi bangsa yang kufur nikmat.

Kita menikmati kemerdekaan, tetapi merusak persatuan.
Kita menikmati kekayaan alam, tetapi membiarkan rakyat miskin.
Kita memiliki hukum, tetapi hukum kehilangan rasa keadilan.
Kita memiliki demokrasi, tetapi demokrasi hanya menjadi alat perebutan kekuasaan.
Kita memiliki jabatan sebagai amanah, tetapi jabatan diperlakukan seperti milik pribadi.
Kita memiliki sumber daya manusia yang hebat, tetapi meritokrasi dikalahkan oleh hubungan keluarga, kedekatan dan kepentingan politik.

Jika itu terjadi, maka persoalannya bukan lagi sekadar ekonomi atau politik.
Itu adalah persoalan moral bangsa.

Belajar dari Kisah Fir’aun

Al-Qur’an banyak menceritakan Fir’aun sebagai simbol kekuasaan yang zalim, sombong dan menindas.

Fir’aun bukan hanya persoalan seorang individu. Kisah Fir’aun adalah peringatan tentang bahaya kekuasaan yang kehilangan moral dan pengawasan.

Ketika kekuasaan tidak lagi merasa sebagai amanah, tetapi menjadi alat untuk menindas, memperkaya diri dan membungkam kebenaran, maka masyarakat harus berani mengingatkan.

Karena itu, dalam kehidupan berbangsa, kita membutuhkan kekuasaan yang kuat tetapi sekaligus terbatas oleh hukum, diawasi oleh lembaga negara dan dikontrol oleh masyarakat.

Kita tidak boleh membangun negara berdasarkan ketakutan kepada penguasa.
Kita harus membangun negara berdasarkan ketaatan kepada konstitusi, hukum, keadilan dan nilai-nilai ketuhanan.

Persatuan Adalah Benteng Kemerdekaan

Indonesia merdeka karena para pendahulu kita mampu menemukan persamaan di tengah perbedaan.

Mereka berbeda suku, agama, daerah, bahasa dan latar belakang.
Tetapi mereka memiliki satu cita-cita:
Indonesia merdeka.

Hari ini kita menghadapi tantangan yang berbeda.
Kita tidak lagi berhadapan dengan penjajah bersenjata.
Kita menghadapi perpecahan, politik identitas yang berlebihan, hoaks, fanatisme kelompok, politik uang, korupsi, kesenjangan sosial dan perebutan sumber daya.

Karena itu, jangan sampai perbedaan politik membuat kita kehilangan persaudaraan.

Jangan karena berbeda pilihan calon pemimpin, kita menjadi bermusuhan.
Jangan karena berbeda partai, kita kehilangan rasa sebagai satu bangsa.
Jangan karena berbeda agama, suku dan budaya, kita saling mencurigai.
Berbeda pilihan adalah demokrasi.
Bersatu sebagai bangsa adalah kewajiban.

Saatnya Membangun Jihad Kebangsaan

Mari kita maknai jihad sebagai perjuangan sungguh-sungguh untuk menghadirkan kebaikan dan mencegah kerusakan.

Jihad seorang pejabat adalah jujur dalam menggunakan kekuasaan.
Jihad seorang penegak hukum adalah menegakkan hukum dengan adil.
Jihad seorang anggota legislatif adalah memperjuangkan kepentingan rakyat dan mengawasi pemerintah secara objektif.

Jihad seorang pengusaha adalah membangun usaha tanpa merampas hak rakyat.
Jihad seorang guru adalah mencerdaskan generasi bangsa.
Jihad seorang petani adalah menjaga ketahanan pangan.
Jihad generasi muda adalah belajar, bekerja keras, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menjauhi narkoba dan perilaku destruktif.
Dan jihad kita semua adalah menjaga Indonesia agar tetap bersatu.

Dari Syukur Menuju Amanah

Maka pada momentum kemerdekaan ini, marilah kita tidak hanya bertanya:
“Apa yang telah diberikan negara kepada saya?”

Tetapi juga bertanya:

“Apa yang telah saya berikan kepada negara?”
Jangan hanya menuntut hak.
Laksanakan pula kewajiban.

Jangan hanya mengkritik pemerintah.
Mari kita juga memperbaiki diri.
Jangan hanya menuntut keadilan.
Mari kita mulai berlaku adil kepada orang lain.

Jangan hanya berbicara tentang korupsi.

Mari kita menolak budaya memberi dan menerima sesuatu yang tidak semestinya.
Karena perubahan sebuah bangsa selalu dimulai dari perubahan manusia di dalamnya.

Indonesia yang Kita Cita-citakan

Kita ingin Indonesia menjadi negeri yang kuat tetapi tidak zalim.
Negeri yang kaya tetapi tidak rakus.
Negeri yang demokratis tetapi tidak gaduh.
Negeri yang maju tetapi tidak kehilangan jati diri.
Negeri yang religius tetapi tidak intoleran.
Negeri yang modern tetapi tetap berakar pada budaya.
Negeri yang berdaulat tetapi tetap menghormati bangsa lain.

Dan yang paling penting:
negeri yang kekayaannya menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Inilah cita-cita Indonesia yang dapat kita arahkan menuju makna baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur: negeri yang baik, kehidupan yang baik, pemerintahan yang amanah, masyarakat yang bersyukur dan kehidupan yang mendapat keberkahan Allah SWT.

Mari kita syukuri kemerdekaan.

Mari kita doakan para syuhada dan pejuang yang telah mendahului kita.
Mari kita hormati para pendiri bangsa.
Tetapi jangan berhenti pada penghormatan terhadap sejarah.

Lanjutkan perjuangan mereka dalam bentuk perjuangan zaman kita.

Jika dahulu mereka berjihad melawan penjajahan, maka hari ini kita berjihad melawan korupsi, kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan dan perpecahan bangsa.

Jangan biarkan kemerdekaan kehilangan makna.
Jangan biarkan kekayaan negeri menjadi sumber kesengsaraan.
Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling membenci.
Dan jangan menjadi bangsa yang kufur terhadap nikmat Allah.

Mari bersatu.
Mari bersyukur.
Mari menjaga Indonesia.
Mari melawan kemungkaran dengan ilmu, keberanian, hukum dan keteladanan.

Karena Indonesia bukan milik satu kelompok.
Indonesia adalah rumah bersama.

Dan kemerdekaan adalah amanah yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih adil, lebih sejahtera, lebih bermartabat dan lebih diberkahi Allah SWT.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Merdeka!

Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur  negeri yang baik, rakyat yang baik, pemimpin yang amanah, dan kehidupan yang mendapat keberkahan Allah SWT.

Berkibar merah putih di angkasa,
Gagah berdiri di bumi pertiwi.
Darah pejuang menjadi pusaka,
Pantang menyerah membela negeri!

Ke medan laga membawa pedang,
Demi bangsa tak gentar mati.
Kini berjuang melawan yang curang,
Dengan kebenaran sepenuh hati!

 

Tim Redaksi

Pos terkait