Jejak Politik EDI BASRI,Dari Politik Sebagai Ibadah Menuju Politik Kebangsaan.

Provinsi Riau.redaqsi.com — Perjalanan politik Edi Basri, Anggota DPRD Provinsi Riau dari Fraksi Partai Gerindra, menjadi gambaran tentang bagaimana politik dipandang bukan semata-mata sebagai jalan menuju kekuasaan, tetapi sebagai ruang pengabdian kepada masyarakat, daerah, bangsa dan negara.Senin,28/09/2026

Dalam perjalanan politiknya, Edi Basri mengawali kiprah organisasi sebelum mengenal politik kepartaian. Ia pernah aktif dalam organisasi kepemudaan AMPI dan dipercaya menjadi Ketua AMPI Kecamatan Tapung. Ia juga pernah mendapatkan tawaran bergabung dengan PDI Perjuangan serta hadir dalam sejumlah kegiatan politik.

Titik Balik: Partai Bintang Reformasi

Perjalanan politik Edi Basri memasuki babak penting pada 2001, ketika lahir Partai Bintang Reformasi (PBR). Saat itu, ia mengaku merasa terpanggil untuk terjun secara sungguh-sungguh ke dunia politik.

Semangat tersebut semakin kuat ketika KH Zainuddin MZ disebut menjadi salah satu inspirasi besar bagi dirinya. Prinsip “politik untuk ibadah” kemudian menjadi salah satu nilai yang ia pegang dalam menjalankan pengabdian politik.

Pada Pemilu 2024, Edi Basri ikut mencalonkan diri dan akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Riau. Amanah tersebut, menurutnya, bukan hanya persoalan menghadapi rakyat, tetapi juga menjadi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Ketika Jalan Politik Mengalami Ujian

Perjalanan politik tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Dinamika dan konflik internal yang terjadi di PBR, termasuk persoalan terkait pencapaian parliamentary threshold, menjadi bagian dari pengalaman politik Edi Basri.

Dari pengalaman tersebut, ia memandang bahwa partai politik dapat mengalami perubahan. Namun, nilai, prinsip dan perjuangan tidak semestinya kehilangan arah.

Menemukan Semangat Nasionalisme Bersama Gerindra

Dalam perjalanan berikutnya, Edi Basri memilih bergabung dengan Partai Gerindra. Dari lingkungan tersebut, ia menyebut kembali menemukan semangat nasionalisme, kemandirian bangsa serta keberanian memperjuangkan kepentingan Indonesia.

Semangat mengelola kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, memperkuat ekonomi nasional dan membangun pertahanan negara menjadi bagian dari inspirasi perjuangannya.

Dua Tokoh, Dua Energi Perjuangan

Dalam perjalanan tersebut, KH Zainuddin MZ disebut memberikan fondasi spiritual dalam menjalankan politik sebagai bentuk ibadah. Sementara itu, Prabowo Subianto memberikan energi nasionalisme bahwa Indonesia harus berdaulat, kuat, mandiri dan memiliki kemampuan mengelola kekayaan nasional untuk kepentingan rakyat.

Dua nilai tersebut menjadi bagian dari cara Edi Basri memaknai perjalanan politiknya.

Dari Tapung untuk Riau

Lahir dari masyarakat Riau, Edi Basri menyatakan ingin tetap berpijak pada persoalan nyata masyarakat. Perhatian tersebut mencakup petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, masyarakat adat, generasi muda, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi daerah hingga masa depan Riau.

Baginya, politik harus memiliki tujuan yang jelas dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Bagi saya, politik bukanlah jalan untuk mencari kekuasaan semata. Politik adalah jalan pengabdian. Politik harus memiliki nilai, harus memiliki tujuan, dan pada akhirnya harus memberi manfaat bagi masyarakat.”

Politik Adalah Amanah

Perpindahan kendaraan politik, menurut Edi Basri, tidak boleh dimaknai sekadar sebagai perpindahan prinsip. Prinsip yang tetap dipegang adalah agama sebagai kompas moral, rakyat sebagai tujuan pengabdian dan Indonesia sebagai rumah besar perjuangan.

Ia juga menegaskan keinginannya agar setiap perjalanan politik yang pernah dijalani dapat menjadi bagian dari pengabdian.

Pada akhirnya, jabatan politik memiliki batas waktu. Kursi dan partai dapat berubah, tetapi amal, perjuangan serta manfaat yang ditinggalkan kepada masyarakat diharapkan tetap menjadi bagian dari catatan sejarah.

“Untuk rakyat. Untuk Riau. Untuk Indonesia. Dan semoga menjadi bagian dari ibadah kepada Allah SWT.”

Pantun Penutup

Pergi ke Tapung membawa rotan,
Singgah sebentar di tepi telaga.
Politik bukan mengejar jabatan,
Tetapi amanah untuk rakyat dan bangsa.

Ke Kampar membawa selasih,
Singgah berteduh di rumah Melayu.
Agama menjadi kompas yang bersih,
Nasionalisme menjadi semangat perjuanganku.

Ke Pekanbaru membeli kain,
Kain Melayu berwarna merah.
KH Zainuddin memberi nilai batin,
Prabowo menguatkan semangat negara.

Pos terkait