SEMARANG.redaqsi.com – Jutaan petani kopi di Indonesia hingga kini masih banyak yang bergantung pada penjualan biji mentah. Padahal, potensi ekonomi dari produk olahan jauh lebih menjanjikan. Anggota DPR RI, Hendry Munief mendorong penguatan sektor pengolahan kopi nasional agar petani dan pengusaha lokal mampu meraup nilai tambah yang berlipat ganda.
Dorongan ini ia sampaikan langsung saat melakukan kunjungan kerja spesifik bersama Komisi VII DPR RI ke fasilitas pabrik PT Santos Jaya Abadi di Kota Semarang, yang berlangsung sejak Jumat hingga Sabtu (5/9/2026).
Dalam kunjungannya, Hendry menyoroti besarnya peluang pasar yang belum digarap maksimal oleh para pelaku industri di Tanah Air.
Aroma kopi dari tanah gambut Kepulauan Meranti tak lagi cukup hanya dinikmati di meja-meja kedai.
Potensi Kopi Liberika Meranti dinilai sudah waktunya naik kelas, dari sekadar komoditas perkebunan menjadi produk unggulan Riau yang mampu bersaing di pasar internasional.
Anggota DPR RI asal Provinsi Riau, H. Hendry Munief, MBA, mendorong agar pengembangan Kopi Liberika Meranti tidak berhenti pada produksi dan penjualan biji kopi. Menurutnya, kekuatan utama justru berada pada proses hilirisasi, sehingga nilai tambah dan keuntungan yang lebih besar dapat dirasakan masyarakat, khususnya para petani.
Dorongan tersebut menjadi semakin relevan karena Kopi Liberika Rangsang Meranti telah memiliki identitas geografis yang kuat sebagai produk khas daerah. Di sisi lain, pengembangan kopi liberika di Riau juga terus mendapat perhatian melalui penguatan bibit, teknologi budidaya, hingga konsep produksi yang berkelanjutan.
Hendry menilai, Meranti tidak boleh hanya menjadi daerah penghasil bahan baku sementara keuntungan terbesar justru dinikmati di luar daerah.
“Kita ingin Kopi Liberika Meranti tidak hanya dikenal sebagai kopi khas Riau, tetapi mampu menjadi produk bernilai tambah yang punya daya saing di pasar global,” demikian semangat yang didorong Hendry dalam pengembangan komoditas tersebut.
Baginya, hilirisasi bukan sekadar mengubah biji kopi menjadi bubuk.
Lebih jauh, harus dibangun sebuah ekosistem dari hulu hingga hilir, mulai dari kualitas tanaman, produktivitas petani, pengolahan pascapanen, pengemasan, branding, sertifikasi, hingga akses pasar.
Dengan pola tersebut, kopi yang tumbuh di lahan masyarakat Meranti dapat memiliki nilai ekonomi berlipat. Petani bukan lagi sekedar pemasok bahan mentah, tetapi menjadi bagian penting dari rantai bisnis yang menikmati nilai tambah produk.
Dari Meranti, Menatap Dunia.
Potensi pasar menjadi salah satu alasan mengapa Kopi Liberika Meranti dinilai layak mendapatkan perhatian lebih serius.
Pengembangan kopi liberika di Riau sebelumnya juga diarahkan pada penguatan teknologi pertanian, termasuk pengembangan bibit unggul dan sistem produksi yang berkelanjutan.
Hal ini penting untuk memastikan pasokan kopi berkualitas ketika permintaan pasar semakin meningkat.
Hendry juga dikenal konsisten mendorong agar komoditas daerah tidak berhenti sebagai bahan mentah. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya hilirisasi agar sumber daya daerah memberikan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat setempat.
Karena itu, Kopi Liberika Meranti dinilai memiliki peluang untuk menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk unggulan berorientasi ekspor.
Bukan hanya soal kopi.
Di balik secangkir Liberika Meranti, ada cerita tentang petani, lahan gambut, ekonomi masyarakat, identitas daerah, dan peluang baru bagi Riau untuk berbicara lebih jauh di pasar dunia.
Jika selama ini Meranti dikenal sebagai daerah penghasil, tantangannya kini adalah menjadikannya pusat lahirnya produk kopi bernilai tinggi.
Dan dari sinilah gagasan hilirisasi itu dimulai: “kopi tumbuh di Meranti, nilai tambahnya kembali kepada masyarakat, dan namanya menembus dunia”
Tim Redaksi






