KAMPAR.redaqsi.com – Sekolah Lansia tidak hanya menjadi ruang bagi para lanjut usia untuk belajar tentang kehidupan dan kesehatan. Di Desa Ranah, Kecamatan Kampar, ruang belajar itu juga menjadi tempat menanamkan kesadaran berdemokrasi.
Sebanyak 32 peserta didik Sekolah Lansia, yang mayoritas merupakan ibu-ibu, mendapat pembekalan langsung dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kampar, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan yang ditaja Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Kampar tersebut menghadirkan langsung Ketua KPU Kabupaten Kampar, Andi Putra, sebagai tenaga pengajar. Kegiatan turut dihadiri Kepala Sekolah Lansia Ranah.
Di hadapan para peserta, Andi Putra tidak sekadar memperkenalkan lembaga yang dipimpinnya. Ia membuka wawasan peserta mengenai tugas dan kewenangan KPU, sekaligus mengajak para ibu lansia memahami pentingnya menjadi pemilih yang cerdas.
Pesan yang disampaikan sederhana, namun memiliki makna besar: menggunakan hak pilih bukan sekadar datang ke tempat pemungutan suara, mencoblos, lalu pulang. Menjadi pemilih berarti mampu menentukan pilihan secara sadar, memahami calon dan program yang ditawarkan, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Materi tersebut disambut antusias. Para ibu-ibu lansia mengikuti penyampaian Andi Putra dari awal hingga kegiatan berakhir.
Bagi KPU Kampar, pendidikan pemilih memang tidak mengenal batas usia. Kelompok lansia tetap memiliki posisi penting dalam demokrasi karena suara mereka merupakan bagian dari penentu arah kepemimpinan dan kebijakan publik.
Antusiasme peserta terlihat dari respons mereka selama kegiatan berlangsung. Bahkan, bagi sebagian peserta, pembelajaran tersebut menjadi pengalaman baru untuk memahami bagaimana menggunakan hak politik secara lebih tepat.
Salah seorang peserta, Nurzani, mengaku senang sekaligus berterima kasih kepada KPU Kabupaten Kampar yang telah memberikan pengetahuan tentang bagaimana menjadi pemilih cerdas.
“Alhamdulillah, omak menjadi tahu cara memilih yang bonau,” ujarnya dengan bahasa khas daerahnya.
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran bahwa pendidikan demokrasi tidak harus selalu disampaikan dengan bahasa rumit. Yang paling penting adalah pesan tersebut sampai dan dipahami oleh masyarakat.
Kegiatan Sekolah Lansia di Ranah pun akhirnya bukan hanya menjadi agenda pembelajaran biasa. Di balik suasana santai para ibu-ibu, terselip pesan penting bahwa setiap suara memiliki nilai dan setiap pemilih memiliki tanggung jawab.
Dari ruang kelas sederhana di Desa Ranah, pesan demokrasi kembali ditegaskan: usia boleh bertambah, tetapi hak untuk menentukan masa depan bangsa tidak pernah berkurang.
Tim Redaksi






